Jakarta, 2 Oktober 2025 – Managing Director sekaligus Chief Economist Danantara, Reza Yamora Siregar, menilai program Koperasi Desa Kelurahan Merah Putih (KDKMP) yang masuk dalam RPJMN 2025–2029 sejalan dengan model pembangunan desa di berbagai negara. Menurutnya, langkah ini dapat memperkuat inklusi keuangan sekaligus menggerakkan ekonomi berbasis komunitas.
Belajar dari India: NRLM sebagai Pilar Desa Mandiri
Reza mencontohkan National Rural Livelihood Mission (NRLM) di India sebagai salah satu program yang berhasil mengangkat perekonomian desa. Melalui kerja sama dengan perbankan nasional, pemerintah India menghadirkan akses pembiayaan, pelatihan, serta penguatan kelompok masyarakat.
“Di India, pemerintah bekerja bersama bank-bank nasional untuk mendukung financial inclusion, memberikan training, dan membuka akses pasar hingga ke akar rumput,” jelas Reza dalam Economic Summit 2025 di Jakarta.
India juga mengembangkan self-help group atau kelompok swadaya masyarakat yang fokus pada pemberdayaan perempuan, akses modal, dan penguatan usaha kecil. Hal ini, menurut Reza, menjadi kunci dalam menciptakan desa yang tangguh dan mandiri.
Brazil: Ekonomi Solidaritas sebagai Alternatif
Selain India, Brazil juga punya pendekatan berbeda yang disebut Solidarity Economy. Dalam sistem ini, koperasi desa menjadi motor utama ekonomi lokal.
Jika kota-kota besar berorientasi pada pasar kapitalis, desa justru diarahkan ke model ekonomi solidaritas yang mengutamakan kebersamaan dan pemerataan hasil.

(Foto: Liputan6.com/Tira Santia)
“Brazil menarik karena koperasi dijadikan driver ekonomi alternatif. Desa mereka dikembangkan dengan konsep sosial dan solidaritas, bukan sekadar mekanisme pasar,” terang Reza.
KDKMP: Jalan Tengah untuk Indonesia
Dengan pengalaman India dan Brazil sebagai rujukan, Reza menilai KDKMP hadir sebagai jalan tengah untuk Indonesia. Program ini bukan hanya koperasi simpan pinjam biasa, melainkan wadah kolektif yang menghubungkan masyarakat desa dengan negara, perbankan, dan BUMN.
KDKMP diharapkan menjadi sarana untuk:
- membuka akses permodalan,
- memperkuat usaha mikro,
- mengelola distribusi barang, dan
- mengembangkan potensi lokal secara gotong royong.
“KDKMP adalah gerakan kolektif masyarakat desa. Bukan sekadar koperasi tradisional, melainkan wadah bersama untuk membangun ekonomi desa secara berkelanjutan,” tegas Reza.
Danantara Siap Kembangkan Investasi Global
Sementara itu, CEO Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara), Rosan Roeslani, membuka peluang investasi ke Eropa, terutama sektor pangan dan kesehatan. Menurutnya, investasi ini tak hanya soal keuntungan, tetapi juga transfer teknologi agar bisa diterapkan di Indonesia.
“Kami melihat peluang besar di Eropa, khususnya pangan dan healthcare. Teknologi yang maju di sana bisa dibawa ke Indonesia untuk memperkuat sektor domestik,” kata Rosan.
Ia menambahkan, rencana investasi dalam waktu dekat akan diumumkan, termasuk kerja sama dengan salah satu perusahaan pangan terbesar dunia yang juga akan berinvestasi di Indonesia.
Source Liputan6
